Selamat datang untuk para pembaca ataupun yang sedang melakukan
pencarian tugas bahasa indonesianya, Saya update untuk bulan januari
2014 ini dengan tambahan nasehat dalam berbentuk pantun. Teringat masa
masa dahulu, biasanya orang tua saya memberikan pantun nasehat
untuk pendekatan menasehati agar tidak melakukan kesalahan, dan menjadi
orang yang lebih baik, daripada memarahi itu sangat tidak efektif.Banyak manfaatnya, seperti biar rajin belajar, jadi anak yang baik, suka
membantu orang tuanya dan lain-lain. Di bawah ini adalah beberapa
yang saya temukan di blog lain dan saya kumpulkan kembali disini :
================================
Rambut dikuncir sambil memakai pita
Pita yang bagus merah mudawarnanya
Begitu banyak nikmat yang diberikan kepada kita
Janganlah lupa untuk selalu mensyukurinya
================================
Kalau harimau sedang mengaum
Bunyinya sangat berirama
Kalau ada ulangan umum
Marilah kita belajar bersama
================================
Hati-hati menyeberang
Jangan sampai titian patah
Hati-hati di rantau orang
Jangan sampai berbuat salah
================================
Manis jangan lekas ditelan
Pahit jangan lekas dimuntahkan
Mati semut karena manisan
Manis itu bahaya makanan.
================================
Buah berangan dari Jawa
Kain terjemur disampaian
Jangan diri dapat kecewa
Lihat contoh kiri dan kanan
================================
Di tepi kali saya menyinggah
Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat
================================
Tumbuh merata pohon tebu
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding
================================
Pinang muda dibelah dua
Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua
Ajaran baik jangan diubah
================================
Anak ayam turun sepuluh
Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Supaya engkau tidak ketinggalan
================================
Anak ayam turun sembilan
Mati satu tinggal delapan
Ilmu boleh sedikit ketinggalan
Tapi jangan sampai putus harapan
================================
Anak ayam turun delapan
Mati satu tinggal lah tujuh
Hidup harus penuh harapan
Jadikan itu jalan yang dituju
================================
Ada ubi ada talas
Ada budi ada balas
Sebab pulut santan binasa
Sebab mulut badan merana
==========Pantun Nasehat===========
Jalan kelam disangka terang
Hati kelam disangka suci
Akal pendek banyak dipandang
Janganlah hati kita dikunci
================================
Bunga mawar bunga melati
Kala dicium harum baunya
Banyak cara sembuhkan hati
Baca Quran paham maknanya
================================
Ilmu insan setitik embun
Tiada umat sepandai Nabi
Kala nyawa tinggal diubun
Turutlah ilmu insan nan mati
================================
Ke hulu membuat pagar,
Jangan terpotong batang durian;
Cari guru tempat belajar,
Supaya jangan sesal kemudian.
================================
Tiap nafas tiadalah kekal,
Siapkan bekal menjelang wafat.
Turutlah Nabi siapkan bekal,
Dengan sebar ilmu manfaat.
================================
Pinang muda dibelah dua
Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua
Ajaran baik jangan diubah
================================
Anak ayam turun sepuluh
Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Supaya engkau tidak ketinggalan
================================
Anak ayam turun sembilan
Mati satu tinggal delapan
Ilmu boleh sedikit ketinggalan
Tapi jangan sampai putus harapan
================================
Anak ayam turun delapan
Mati satu tinggal lah tujuh
Hidup harus penuh harapan
Jadikan itu jalan yang dituju
================================
Ada ubi ada talas
Ada budi ada balas
Sebab pulut santan binasa
Sebab mulut badan merana
================================
Manis jangan lekas ditelan
Pahit jangan lekas dimuntahkan
Mati semut karena manisan
Manis itu bahaya makanan.
================================
Buah berangan dari Jawa
Kain terjemur disampaian
Jangan diri dapat kecewa
Lihat contoh kiri dan kanan
================================
Di tepi kali saya menyinggah
Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat
================================
Tumbuh merata pohon tebu
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding
================================
Di tepi kali saya menyinggah
Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat
================================
Jalan kelam disangka terang
Hati kelam disangka suci
Akal pendek banyak dipandang
Janganlah hati kita dikunci
================================
Bunga mawar bunga melati
Kala dicium harum baunya
Banyak cara sembuhkan hati
Baca Quran paham maknanya
================================
Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sucinya?
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya
================================
Pergi belanja ke pasar kranji
Pulangnya mampir membeli bubur
Selamat beribadah para jamaah haji
Semoga pulang membawa haji yang Mabrur
================================
Ada pasir ada juga tanah
Batang pohon memiliki dahan
Umur panjang adalah AMANAH
Pertanggungan jawabnya kepada TUHAN
================================
Bikin sambal terasi dicampur tomat
Untuk lalapan pake daun selada
Apabila telah sampai datangnya hari kiamat
tiada guna lagi jabatan dan juga harta benda
================================
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
================================
Buah cempedak diluar pagar
Ambil galah tolong jolokkan
Saya budak baru belajar
Kalau salah tolong tunjukkan
================================
Ilmu insan setitik embun
Tiada umat sepandai Nabi
Kala nyawa tinggal diubun
Turutlah ilmu insan nan mati
================================
Ke hulu membuat pagar,
Jangan terpotong batang durian;
Cari guru tempat belajar,
Supaya jangan sesal kemudian.
================================
Tiap nafas tiadalah kekal,
Siapkan bekal menjelang wafat.
Turutlah Nabi siapkan bekal,
Dengan sebar ilmu manfaat.
Sabtu, 25 Januari 2014
PANTUN
The pantun (Jawi: ڤنتون) is a Malay poetic form.
The pantun originated as a traditional oral form of expression. The
first examples to be recorded appear in the 15th century in the Malay Annals and the Hikayat Hang Tuah. The most common theme is love.
In its most basic form the pantun consists of a quatrain which employs an abab rhyme scheme. A pantun is traditionally recited according to a fixed rhythm and as a rule of thumb, in order not to deviate from the rhythm, every line should contain between eight and 12 syllables. "The pantun is a four-lined verse consisting of alternating, roughly rhyming lines. The first and second lines sometimes appear completely disconnected in meaning from the third and fourth, but there is almost invariably a link of some sort. Whether it be a mere association of ideas, or of feeling, expressed through assonance or through the faintest nuance of a thought, it is nearly always traceable" (Sim, page 12). The pantun is highly allusive and in order to understand it readers generally need to know the traditional meaning of the symbols the poem employs. An example (followed by a translation by Katharine Sim):
Sometimes a pantun may consist of a series of interwoven quatrains, in which case it is known as a pantun berkait. This follows the abab rhyme scheme with the second and fourth lines of each stanza becoming the first and third lines of the following stanza. Finally, the first and third lines of the first stanza become the second and fourth lines of the last stanza, usually in reverse order so that the first and last lines of the poem are identical. This form of pantun has exercised the most influence on Western literature where it is known as the pantoum.
In its most basic form the pantun consists of a quatrain which employs an abab rhyme scheme. A pantun is traditionally recited according to a fixed rhythm and as a rule of thumb, in order not to deviate from the rhythm, every line should contain between eight and 12 syllables. "The pantun is a four-lined verse consisting of alternating, roughly rhyming lines. The first and second lines sometimes appear completely disconnected in meaning from the third and fourth, but there is almost invariably a link of some sort. Whether it be a mere association of ideas, or of feeling, expressed through assonance or through the faintest nuance of a thought, it is nearly always traceable" (Sim, page 12). The pantun is highly allusive and in order to understand it readers generally need to know the traditional meaning of the symbols the poem employs. An example (followed by a translation by Katharine Sim):
- Tanam selasih di tengah padang,
- Sudah bertangkai diurung semut,
- Kita kasih orang tak sayang,
- Halai-balai tempurung hanyut.
- I planted sweet-basil in mid-field
- Grown, it swarmed with ants,
- I loved but am not loved,
- I am all confused and helpless.
- Singapura negeri baharu,
- Tuan Raffles menjadi raja,
- Bunga melur, cempaka biru,
- Kembang sekuntum di mulut naga.
- Singapore is a new country,
- Tuan Raffles has become its lord,
- Indian jasmine, frangipanni,
- Blossoms one flower in the dragon's mouth. (Translated by Sim, p.40)
Sometimes a pantun may consist of a series of interwoven quatrains, in which case it is known as a pantun berkait. This follows the abab rhyme scheme with the second and fourth lines of each stanza becoming the first and third lines of the following stanza. Finally, the first and third lines of the first stanza become the second and fourth lines of the last stanza, usually in reverse order so that the first and last lines of the poem are identical. This form of pantun has exercised the most influence on Western literature where it is known as the pantoum.
Langganan:
Postingan (Atom)